Memilih Investasi Terbaik

Salah satu keuntungan yang bisa saya ambil dari pengalaman bekerja di industri perbankan adalah keterbukaan pikiran mengenai investasi, yang mana tidak pernah terlintas di benak saat di bangku kuliah Teknik Mesin dulu. Membaca cash flow keuangan, menganalisa kesehatan keuangan, menganalisa karakteristik calon debitur, atau membaca pergerakan ekonomi makro dan masih banyak lain yang jauh merupakan pekerjaan rutin yang berbeda dari ilmu Teknik Mesin seperti teori mekanika fluida, teknik fabrikasi atau teori perpindahan kalor.

Lalu apa yang bisa saya petik dari pekerjaan sehari-hari?

Sebagai pegawai dengan penghasilan rutin bulanan, tentu saya memiliki keinginan untuk meningkatkan nominal dari apa yang bisa saya dapatkan tiap bulan. Salah satu yang pernah saya lakukan dengan cara mendepositokan hasil tabungan saya, dengan kisaran bunga 5-6 % pada bank konvensional dan kisaran bagi hasil ekuivalen 7% pada bank syariah. Namun, dengan inflasi Indonesia sebesar 12% (perhitungan seorang kawan) maka apa yang saya depositokan tidak banyak berarti. Solusinya adalah saya harus mulai berinvestasi.

Bagaimana saya memilih instrumen investasi?

Sulit mengatakan apa yang menjadi investasi terbaik saat ini. Apakah properti, emas, atau obligasi? Tapi satu yang pasti semua instrumen investasi memiliki resiko. Resiko investasi properti? Kenaikan harga tanah tergantung dari lokasi dan investasi properti bersifat tidak liquid. Resiko investasi emas? untuk produk emas berjangka maka resikonya adalah pasar namun bagi saya emas bukanlah merupakan instrumen investasi, emas bagi saya pribadi merupakan pelindung nilai. Resiko obligasi? resikonya tinggi sekali. Dan berdasarkan pengalaman saya bila ada penawaran investasi dengan return (pendapatan) besar tapi diklaim beresiko kecil (bahkan ada yang mengklaim tanpa resiko) maka bisa dipastikan itu investasi abal-abal atau adanya unsur penipuan didalamnya.

Sebelum saya memilih instrumen investasi, saya mengukur kemampuan saya antara lain:

  1. Modal;, meminjam kata-kata dari Ellen May (Penulis buku Best Selling Smart Traders Not Gamblers, praktisi pasar modal, @pakarsaham): “menghitung modal berarti menghitung peluru”. Dengan menghitung modal, saya dapat menentukan pilihan apakah investasi di reksadana  atau investasi di saham.
  2. Tujuan investasi; investasi jangka panjang seperti reksadana saham atau campuran atau investasi jangka pendek seperti reksadana pendapatan tetap
  3. Profil resiko; apakah konservatif, agresif atau moderat.
  4. Pengetahuan; ini penting karena investasi bersifat dinamis. Kepastian di investasi adalah ketidakpastian

Pilihan saya pun jatuh pada investasi Reksadana campuran, alasannya;

  1. Modal saya berkisar 5 sampai dengan 10 juta,
  2. Tujuan investasi saya adalah 20 sampai dengan 25 tahun
  3. Saya berprofil moderate yaitu, sanggup menerima resiko sedang dengan harapan return sedang
  4. Saya tidak memiliki pengetahuan berinvestasi di bursa saham oleh karena itu saya menyerahkan pada manajer investasi untuk mengelola dana investasi
  5. Investasi reksadana praktis dan bersifat liquid
  6. Sebagian besar rekan kerja saya berinvestasi pada pasar modal

Demikian sharing saya mengenai memilih instrumen investasi. Lain kali saya akan menulis bagaimana memilih produk reksadana yang sesuai.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s